1. I. Sejarah Perkembangan Sosiologi

Perkembangan Sosiologi dapat dikatakan bertitik tolak dari pemikiran Auguste Comte (1798 – 1857) yang pertama-tama memberi nama ilmu tentang masyarakat sebagai “Sosiologi”. Akan tetapi pikiran-pikiran tentang masyarakat sudah dimulai jauh sebelum masa Auguste Comte.

Pemikiran tentang masyarakat sudah dimulai sejak zaman Yunani, dimana para filosof pada masa itu sudah mendiskusikan soal masyarakat. Plato (429 – 347) adalah filosof pertama melakukan telaah secara sistematis terhadap masyarakat. Plato mencoba merumuskan sebuah negara yang ideal berdasarkan pengamatan kritisnya terhadap kondisi saat itu.

Bagi Plato, masyarakat adalah refleksi dari manusia perorangan. Dimana setiap manusia memiliki 3 unsur yang akan selalu menyertai dalam hidupnya, yakni : unsur nafsu, unsur semangat dan unsur intelegensia. Maka menurut Plato, sebuah masyarakat juga memiliki ketiga unsur tersebut. Dimana unsur intelegensia adalah pengendali. Plato merumuskan hubungan fungsional antara lembaga-lembaga tersebut untuk menyelenggarakan pemerintahan berdasarkan etika, hukum dan keadilan.

Pasca Plato, Aristoteles melanjutkan tradisi ilmiah yang sudah dibangun oleh Plato dan Aristoteles menganalisis lebih dalam peran-peran lembaga politik  dalam masyarakat yang tertuang dalam bukunya “Politics”

Di abad pertengahan, Ibnu Khaldun adalah seorang filosof arab yang juga analisis terhadap masyarakat, khususnya pada kejadian-kejadian dan perisitiwa yang kemudian menyebabkan lahir dan runtuhnya sebuah negara atau kerajaan pada waktu itu. Dimana Ibnu Khaldun menyimpulkan bahwa solidaritas lah merupakan faktor dalam lahir, berkembang dan runtuhnya sebuah negara atau masyarakat.

Di zaman Renaissance, tersebutlah nama Thomas More dengan bukunya Utopia, Campanella dengan tulisannya City of The Sun yang lebih menekankan bagaimana seharusnya masyarakat yang ideal. Sementara dimasa yang sama, lahir pemikiran dari Machiavelli tentang bagaimana seharusnya mempertahankan kekuasaan oleh sebuah pemerintahan atau penguasa.

Pada abad 17, Hobbes (1588 – 1679) merumuskan tentang bagaimana terjadinya kontrak didalam masyarakat yang selalu ingin saling menguasai dan bagaimana lahirnya kelompok masyarakat yang memiliki wewenang dalam menjaga kontrak sosial yang dihasilkan. Selain Hobbes, terdapat pula John Locke dan JJ. Rousseau yang menganalisis lebih dalam kontrak sosial dan hak-hak asasi yang dimiliki seorang warga, seperti hak hidup, hak untuk bebas, hak atas harta benda, dll.

Pada awal abad ke 19, Saint Simon menghasilkan pemikiran dimana seorang warga haruslah belajar pada masyarakat, dimana masyarakat bukanlah hanya sekumpulan orang belaka, akan tetapi masyarakat memiliki hukum tertentu yang menggerakan manusia dalam melakukan fungsinya dimasyarakat.

Kemudian Auguste Comte mengukuhkan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan positif, setelah membaga 3 tahapan berpikir manusia, yakni : Teologi, Metafisika kemudian Tahapan Positivis. Menurut Comte, Sosiologi merupakan studi postif tentang hukum-hukum dasar dari gejala sosial dan juga Comte membagi sosiologi menjadi 2 yakni sosilogi statis dan sosiologi dinamis.

Setelah Auguste Comte, ilmu sosiologi berkembang saling mempengaruhi dengan disiplin ilmu lainnya. Edward Buckle dan Le Play menyoroti pengaruh alam terhadap tingkah laku masyarakat.

Herbet Spencer (1820 – 1903) menganalisis masyarakat dengan mengambil analogi organisme manusia. Dimana Spencer menyimpulkan bahwa masyarakat mengalami perubahan kearah yang lebih sempurna dengan sifat kompleksitas, diferensiasi dan integrasi. WG Summer melakukan analisis terhadap kebiasaan-kebiasaan sosial yang timbul dimasyarakat. Emile Durkheim menganalisis unsur baku didalam masyarakat yakni solidaritas dan kemudian Durkheim membagi masyarakat dengan karakter solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Ferdinand Tonnies menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya hubungan  dengan sesama, dimana perasaan, simpati dan kepentingan bersama merupakan faktor penting, Tonnies membagi dua karakter masyarakat yakni Gemeinschaft (paguyuban) dan geselschaft.

Kemudian Georg Simmel (1858 – 1918) menyimpulkan bahwa lembaga didalam masyarakat terwujud dalam bentuk superioritas, subordinasi dan konflik. Simmel juga menyimpulkan bahwa terjadi proses sosialisasi dan individualisasi seorang pribadi ketika menjadi warga masyarakat. Sementara Richard Horton Cooley (1864 – 1924) mengembangkan konsep primary group.

Berikutnya kajian sosiologi semakin lengkap dengan hadirnya hasil pemikiran dari Karl Marx tentang perubahan sosial, kelas-kelas dalam masyarakat dan konflik. Juga Max Weber yang menganalisis tentang prilaku sosial

  1. II. Defenisi Sosiologi

Defenisi sosiologi sangatlah tergantung dari sudat pandang dalam membuat defenisi, secara terminologi sosiologi berasal dari kata Yunani, yakni kata socius dan logos,Socius berarti kawan, berkawan ataupun bermasyarakat sementara logos berarti ilmu atau dapat juga bermaksud berbicara tentang sesuatu. Dengan demikian secara harfiah istilah sosiologi dapat diartikan ilmu tentang masyarakat (Spencer dan Inkeles). Sehingga cakupan sosiologi sangatlah luas, berikut ini beberapa defensi sosiologi :

  1. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik berbagai macam gejala sosial, seperti gejala ekonomi terhadap hukum, gejala agama terhadap keluarga, dll. Juga mempelajari hubungan  dan pengaruh gejala sosial dengan gejala non sosial, seperti biologis, geografis, dll. Pendapat ini diutarakan oleh Pitrim Sorokin
  2. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok (Roucek dan Warren)
  3. Sosiologi adalah penelitian ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial William F Ogburn dan Mayer F Nimkoff)
  4. Sosiologi adalah ilmu tentang struktur-struktur dan proses kemasyarakatan (JAA Van Dorn)
  5. Sosiologi adalah ilmu tentang interaksi manusia dalam masyarakat sebagai suatu keseluruhan (David Popenoe)
  6. Sosiologi adalah ilmu tentang kelompok hidup manusia. (Meta Sprencer dan Inkeles)
  7. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tindakan sosial, prilaku sosial dan fakta sosial
  8. Sosiologi adalah ilmu yang memperlajari tentang struktur sosial, proses sosial dan perubahan sosial.
  9. III. Objek Kajian Sosiologi

Objek kajian Sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan proses sosial yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat dengan mengkaji kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat, seperti keluarga, etnis atau suku bangsa, komunitas, pemerintahan dan berbagai organisasi sosial, agama, politik, budaya, bisnis dan organisasi lainnya. Sosiologi juga mempelajari perilaku dan interaksi kelompok, menelusuri asal usul pertumbuhannya serta menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap para anggotanya.

  1. IV. Karakteristik Sosiologi

Menurur Soekanto, karakteristik sosiologi adalah sebagai berikut :

  1. Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan bagian dari ilmu pengetahuan alam maupun ilmu kerohanian.
  2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu disiplin yang bersifat kategoris. Artinya sosiologi membatasi diri dari apa yang terjadi saat ini dan bukan mengenai apa yang semestinya terjadi atau seharusnya terjadi.
  3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni  (pure science) bukan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (applied science)
  4. Sosiologi merupakan ilmu pengatahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkret
  5. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola umum. Sosiologi meneliti apa yang menjadi prinsip umum atau hukum umum dari interaksi antar manusia.
  6. Sosiologi merupakan ilmu sosial yang empiris, faktual dan rasional (the science of the obvius)
  1. V. Pendekatan Sosiologi

Ada dua pendekatan dalam sosiologi, yakni pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif mengutamakan bahan dalam bentuk angka sehingga gejala sosial dapat diukur dengan menggunakan skala, indek, tabel dan statistik dengan teknik sosiometrik. Sementara pendekatan kualitatif lebih menggunakan pendekatan epistemologi interpretatif dengan penekanan pada makna-makna yang terkandung didalamnya atau yang ada dibalik kenyataan yang teramati.

  1. VI. Metode Sosiologi

Berikut beberapa metode yang digunakan dalam sosiologi

1.  Metode Deskriptif (Metode empiris)

2.  Metode Eksplanatori

3.  Metode Historis Komparatif

4.  Metode Fungsionalisme

5.  Metode Studi Kasus

6.  Metode Survei

  1. VII. Ruang Lingkup Sosiologi

Sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, maka ruang lingkup sosiologi sangatlah luas sesuai dengan karakter masyarakat. Berikut beberapa cakupan atau ruang  lingkup kajian sosiologi :

1.  Sosiologi pedesaan

2.  Sosiologi perkotaan

3.  Sosiologi industri

4.  Sosiologi kesehatan/medis

5.  Sosiologi keluarga

6.  Sosiologi pendidikan

7.  Sosiologi hukum

8.  Sosiologi politik

9.  Sosiologi lingkungan

10.  dll