1. I. Pendahuluan

George Ritzar dalam Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda menuliskan bahwa paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuawan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh satu cabang ilmu pengetahuan (dicipline). Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan.

Dalam satu disiplin ilmu sangat dimungkin terdapat beberapa paradigma, hal ini dikarenakan perbedaan ilmuwan dalam satu disiplin ilmu menentukan titik tolak pandangan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari dan diselidiki oleh disiplin ilmu tersebut. Perbedaan ini muncul dari perbedaan pandanga filsafat yang mendasari, teori-teori yang dibangun dan metode yang dipergunakan.

Menurut Ritzer, sosiologi merupakan suatu ilmu yang berparadigma majemuk (a multiple paradigm science) karena mempunyai tiga paradigma yaitu paradigma Fakta Sosial, Paradigma Defenisi Sosial dan Paradigma Perilaku Sosial.

  1. II. Paradigma Fakta Sosial

Paradigma Fakta Sosial bersumber dari Durkheim yang melihat sosiologi sebagai ilmu yang sedang berupaya memperoleh kedudukan sebagai cabang ilmu sosial yang berdiri sendiri terutama pengaruh dari ilmu filsafat dan psikologi. Untuk memisahkan sosiologi dari pengaruh filsafat maka Durkheim membangun suatu konsep yakni fakta sosial.

Fakta sosial dinyatakan sebagai sesuatu yang berbeda dengan ide, akan tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data ril diluar pemikiran manusia. Artinya fakta sosial harus dipelajari didialam dunia nyata. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir dan berperasaan yang berada diluar individu dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikan.

Fakta Sosial menurut Durkheim terdiri atas : 1) Dalam bentuk material yakni sesuatu yang dapat disimak, ditangkap dan diobservasi. 2) Dalam bentuk non materi yaitu sesuatu yang dianggap nyata (external) akan tetapi merupakan fenomena yang bersifat inter subjektive yang hanya dapat muncul dari kesadaran manusia.

Secara garis besar fakta sosial terdiri atas dua tipe yakni struktur sosial dan pranata sosial. Sifat dan hubungan dari fakta sosial inilah yang menjadi sasaran penelitian sosiologi menurut paradigma fakta sosial.

Secara lebih terperinci fakta sosial itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu, sistem sosial, posisi, peranan, nilai-nilai keluarga, pemerintah, dsb. Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta sosial : nilai-nilai umum dan norma yang terwujud dalam kebudayaan atau dalam subn kultur. Dimana norma dan pola nilai ini biasa disebut institution atan disebut juga dengan pranata. Sedangkan jaringan hubungan sosial di mana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir diartikan sebagai struktur sosial.

Ada 4 varian teori yang tergabung kedalam paradigma fakta sosial, adalah : Teori Fungsionalisme Struktural, Teori Konflik, Teori Sistem dan Teori Sosiologi Makro.

  1. Teori Fungsionalisme Struktural

Teori ini menekankan kepada keteraturan dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamnya adalah fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest dan keseimbangan.

Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain.

Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur sosial dalam sistem sosial fungsional terhadap yang lain dan dapat diartikan bahwa setiap peristiwa dan semua struktur sosial adalah fungsionak bagi suatu masyarakat.

Fungsi adalah akibat-akibat yang dapat diamati yang menuju adaptasi atau penyesuaian dalam satu sistem. Merton membedakan fungsi atas fungsi laten atau fungsi yang diharapkan dan fungsi manifest atau fungsi yang tidak diharapkan.

  1. Teori Konflik

Teori ini dibangun untuk menentang secar alangsung terhadap teori fungsionalisme struktural. Dalam teori konflik masyarakat senantiasa berada dalam pross perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya.

Teori Konflik melihat bahwa setiap elemen memberikan sumbangan terhadap diintegrasi sosial.  Keteraturan dalam masyarakat hanyalah disebabkan karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa.

Pertentangan terjadi dikarenakan golonga berkuasa berusaha untuk mempertahakan status quo sedangkan golongan yang dikuasai berusaha untuk mengadakan perubahan-perubahan.

Dahrendrof membagi golongan terlibat kedalam : Kelompok semu atau kelompok pemegang kekuasaan dan kelompok kepentingan. Berghe mengemukakan empat fungsi konflik : 1) Sebagai alat memelihara solidaritas, 2) membantu  menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain, 3) Mengaktifkan peranan individu yang semula terisolasi. 4) Fungsi komunikasi.

  1. Teori Sistem

Teori ini melihat bahwa kenyataan sosial dari suatu prespektif yang sangat luas, tidak terbatas pada tingkat struktur sosial saja. Dalam teori sistem, Parson mengembangkan kerangka AGIL (adaptation, goal attainment, Integration dan Laten Pattern Maintenance).